Saturday, January 25, 2014

Short Story for #BlackTemptation by Kapal Api

Anggita terdiam, termenung atas apa yang dilihatnya sore hari itu di tepi pantai. dengan hati yang teramat hancur dalam berkeping-keping dan perasaan yang tak terjelaskan, Anggita memilih untuk kembali, memutar arah mobilnya yang baru saja sampai demi menghentikannya melihat pemandangan yang dia pikir seharusnya tidak dia lihat. sepanjang perjalanan, pikiran-pikiran itu terus menghantuinya, mengenai entah apa yang dilakukan Ario dengan gadis tersebut di tempat yang mereka janjikan bersama.

tiada tempat lain yang dituju yang terlintas dibenaknya selain kedai kopi yang biasa ia kunjungi, meskipun ia tahu tempat itu akan sangat menambah luka hatinya. disana ia memesan kopi spesial yang biasa ia pesan, namun hari ini dia memiih tempat duduk yang tidak seperti biasanya. dia lebih memilih untuk duduk di sudut ruangan, tidak terlihat, agar tidak ada yang akan menyadari luka hatinya yang menyeruak memenuhi ruangan. apalagi yang ia bisa lakukan selain menceritakan rasa hatinya melalui sketsa-sketsa yang ia buat. ya dan saat ini ia memutuskan untuk kembali mensketsa. tanpa sadar ia mensketsa pemandandangan yang dilihatnya sore tadi di tepi pantai. betapa hancur hatinya begitu mengyadarinya, entah apa yang ia rasakan saat ini memang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. namun kemudian ia tersenyum dalam lara hatinya, apalah arti seorang dirinya yang memang belum mengenal betul sosok Ario. di pojok bawah hasil sketsanya tersebut, ia meninggalkan sebuah catatan bertuliskan "glad to see you happy there"..

Setelah ditunjukkan tempat yang dimaksud, Ario sangat berterima kasih kepada sang gadis dan segera mengantarkan gadis kembali ke kedai kopi karena si gadis mempunyai urusan yang sangat penting sehingga mengharuskannya kembali. namun Ario hanya mengantarkan, dan tidak sedikitpun menoleh atau menyadari keberadaan Anggita yang tengah termenung duduk di sudut kedai. apa yang dipirkan Ario hanyalah satu, untuk segera kembali ke tepi pantai untuk menemui Anggita. dia sangat tidak ingin membuat Anggita menunggu karenanya.

Ario yang dengan perasaan senang dan was-was menunggu kehadiran Anggita sendirian. ditemani dengan debur ombak, angin laut dan kemilau cahaya matahari yang kian meredup. tanpa disadari, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. sudah lama Ario menunggu namun yang ditunggu tidak kunjung datang, sampai akhirnya Ario memutuskan untuk beranjak kembali karena angin laut yang kian waktu kian tak bersahabat.

Ario kembali ke kedai kopi, memeasan kopi spesial yang biasa ia pesan, berjalan, duduk di tempat yang seperti biasa Anggita tempati tanpa menyadari keberadaan Anggita yang duduk di sudut ruangan yang sama. Ario hanyak duduk, mengamati sketsa-sketsa Anggita di dinding dan bertanya-tanya dalam hatinya apa yang membuat Anggita tidak dapat menemuinya sore tadi.

Anggita yang sedari tadi sibuk dengan perasaan dan sketsanya tidak pula menyadari kehadiran Ario dalam kedai kopi itu, hingga akhirnya tanpa sengaja Anggita menjatuhkan pensilnya yang kemudian bergelinding ke arah tempat duduk yang biasa ia tempati. tanpa berfikir panjang Anggita beranjak untuk mengambil pensilnya karena ia mengira tidak mungkin Ario akan berada di kedai kopi, tapi kali ini ia salah.

Ario mendongak, melihat seorang peremouan yang dengan tatapan menunduk berjalan ke arahnya, ya Anggita berjalan menunduk, mengikuti kemana arah pensilnya hendak pergi.

Terkaget Ario mendapati Anggita berada tepat di depannya namun Anggita masih saja terlalu berkonsentrasi mengikuti pensilnya, Ario dengan benak yang seadanya, memberanikan diri menyapa Anggita. Anggita pun menengok ke arah sumber suara, sedikit terkaget dengan apa yang didapatinya di depan mata, Ario.

Anggita hanya terdiam, segera kembali ke mejanya dan membereskan barang-barangnya, bersiap pergi meninggalkan kedai, meninggalkan Ario. hatinya hanya belum terlalu kuat untuk bertemu Ario saat ini.

Ario yang dengan bingungnya memanggil dan mengikuti Anggita hingga depan pintu kedai. dengan ide seadanya mengikuti kemana arah mobil Anggita pergi demi menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, hingga akhirnya mobil Anggita hilang, termakan arus lalu lintas yang pada malam itu memang sedang ramai. Ario tetap mengacu motornya berharap masih bisa menemukan mobil Anggita disela-sela padatnya jalanan kota. Namun ternyata semesta berkata lain. Apakah Ario masih bisa bertemu Anggita?

No comments:

Post a Comment