Saturday, January 5, 2013

Late Sleep Story.


Mbak Dik sekarang sudah menikah, suaminya terlihat seperti seorang yang berwibawa dan juga mapan. Berkumis dan terlihat serius. Mbak Dik terlihat cantik dengan rias pengantinnya. Rumah baru yang dibelikan suaminya terlihat bagus, terbuat dari bambu-bambu dengan gantungan-gantungan cantik di tepi atapnya. Jelas sudah ini menandakan bahwa suami Mbak Dik merupakan orang yang beruang, kaya. Di saat Mbak Dik dan adik-adiknya dan aku, untuk mendapatkan sesuap nasi saja susah, kini suaminya mampu membeli hiasan gantungan rumah yang amat cantik begitu banyak menghiasi sisi-sisi atapnya, gantungan itu terlihat mahal. Aku turut berbahagia akan Mbak Dik. Mbak Dik mengajakku, ke kebun di seberang rumah barunya, yang suaminya belikan juga sebagai mas kawin dari pernikahan mereka. Bagus, hijau, masih dengan aksen bambu-bambu.

Tiba saatku untuk pergi, untuk kembali ke Jakarta, tempatku menuju, tempatku berasal, melanjutkan hidupku tanpa Mbak Dik. Hpku bergetar, tanda seseorang menelponku. Zafran, pemuda desa yang selama ini singgah di hatiku.
"halo, iya ada apa?"
"sayang, aku pergi ke kamu, bawain sesuatu" 
"bawain apaan?" 
"bawain makanan supaya kamu ga kelaperan" 
"kamu dimana sekarang?" 
"disini" terlihat Zafran melambaikan tangannya dari pinggir jalan, melihat ke arahku yang masih berada di kebun baru Mbak Dik.

Tersipu malu akan hadirnya, parasnya yang indah membuat hariku sejenak cerah. Aku bahagia. belum sampai aku menghampirinya, Zafran melajukan motor nya ke arah lain.
"kamu mau kemana?" tanyaku masih di telpon.
"aku mau parkir di depan" 
"oh oke aku ke situ yah" berlari kecil aku menghampiri Zafran.
Tak dapat lagi aku sembunyikan betapa bahagianya diriku bertemu pria ini. Begitu sampai di hadapannya, bingung menghampiriku. Bagaimana aku harus memulai pertemuanku kali ini. Zafran tersenyum, membuka kedua lengannya, menyambutku dengan sebuah pelukan hangat.
"udah sini aja, aku tau kamu pasti kangen", tak sempat lagi aku berpikir, ku hempaskan diriku masuk dalam pelukan Zafran.

Hilang aku dalam pelukannya, tiba-tiba dadaku terasa sakit, bahagia kurasakan sejenak namun seketika itu juga aku merasa sendu, sedih. Tiba-tiba menyadari bahwa sebentar lagi aku akan berpisah dengan Zafran. Mataku mulai berkaca-kaca, inilah kelemahanku, aku tak bisa menyembunyikan apa yang aku rasakan.
"udah keluarin aja semuanya, ada aku disini" Zafran melonggarkan pelukannya, sadar akan banyak orang yang melihat.
Diriku seolah tak terima, tak mau berpisah dengannya, aku tarik Zafran dan memeluknya kiat erat, seolah kita tak akan kembali bertemu besok, tapi memang begitu kenyataannya.

Zafran berjalan, bersamaku yang kian bersedih dalam pelukannya menuju tempat dimana orang-orang takkan mempedulikan kita. Di sebuah bangku di pinggir danau kita duduk,
"kamu kenapa? jangan sedih" tanya Zafran.
Aku cuma bisa diam tanpa kata, tak tau lagi harus berkata apa. Seribu kata pun tak mampu mengungkapkan apa yang aku rasakan.
"kamu pindah ke Jakarta yuk sama aku" Zafran ganti terdiam
"aku gak bisa" mendengar suaranya yang lirih kian menggores hatiku.
Aku bersandar pada pundaknya, tempatku menyandarkan semua keluh kesahku selama ini, mencoba tersenyum.
"yaudah aku tunggu kamu 1,5 tahun lagi ya di Jakarta. pokoknya kamu harus selesain kuliah kamu dulu" setidaknya aku memberikan Zafran satu alasan untuk menyelesaikan bangku kuliahnya dengan sungguh-sungguh.
"oh iya! satu setengah tahun itu cepet kok, atau malah bisa kurang. aku janji kalo udah selesai aku pindah ke Jakarta. oh iya lagian juga aku udah ada tawaran kerja di Jakarta" tanggapannya yang antusias memberikan sedikit kebahagiaan padaku. Kecupan Zafran dikeningku mengakhiri perbincangan kecil itu, kita hanya diam. Saling jatuh cinta dalam keheningan.

tersadar akan waktu, bis yang akan mengantarku menuju Jakarta akan berangkat sebentar lagi. ku minta Zafran mengantarkan ku. di pool bis yang kecil itu aku melihat banyak teman-temanku. sebagian dari mereka ikut mengadu nasib di Jakarta dan sebagiannya lagi mengantarkan sanak saudara mereka, dan aku. kembali aku menatap Zafran, kembali berdoa bahwa ini semua hanya fantasi bahwa sebenarnya aku tak perlu pergi meninggalkan Zafran. mengalir sesuatu di pipiku yang dengan segera Zafran usap. "maaf ya, aku juga sebenernya gak mau sedih" kataku. "iya kamu jangan sedih ya, aku kan masih selalu ada buat kamu" katanya seraya tersenyum. senyuman manis itu bak obat bagiku. terima kasih Zafran.

Zafran mengantarku hingga aku hendak menaiki bis yang sudah siap. Zafran berhenti, menarikku masuk kembali ke pelukannya yang sekarang terasa berbeda. kesedihan itu kini memancar dari nya. aku tak mau ia bersedih. "aku janji kita akan bertemu suatu hari nanti, kamu jangan sedih" ganti aku menghibur Zafran. ku kecup keningnya, dan tibalah saatnya untuk berpisah.


cerita antara kamu dan aku.

No comments:

Post a Comment